Sunday, April 9, 2017

Bab Enam: Menumpas Nafsu akan Kesenangan



Ada tertulis bahwa hanya sedikit yang mau menempuh jalan yang sempit yang membawa kepada hidup dan kita semestinya sudi masuk melalui pintu yang sempit itu. Sebab banyak yang akan mencoba masuk melaluinya, namaun tidak akan mampu (bdk. Lukas 13:24).

Penjelasannya dapat ditemukan persis karena ketidakmauan kita menyangkal diri kita. Kita mencoba mengatasi tabiat buruk, mungkin juga laksana kita yang parah dan berbahaya, namun demikian itu terhenti begitu saja. Nafsu kecil yang kita biarkan bebas. Kita mungkin memang tidak menilap atau mencuri, namun kita suka bergunjing; kita tidak minum-minum, namun ngeteh dan ngopi secara berlebihan. Hati kita masih penuh dengan keinginan-keinginan: akar-akar yang tidak dicabut dan kita mengembara ria di hutan rimba yang kita biarkan bertumbuhan di lahan rasa mengasihani diri sendiri.

Kita harus menumpas rasa kasihan diri sendiri, sebab itulah akar dari segala nestapa yang menimpamu. Jika kita tidak tunduk kepada rasa mengasihani diri, maka pasti kita sadar bahwa kita sendirilah penyebab kejatuhan kita, sebab kita menolak untuk paham bahwa semua demi kebaikan kita. Merasa diri menderita mengaburkan pandangan kita. Kita mengasihani hanya diri sendiri dan akhirnya kurang mempertimbangkan perasaan orang lain. Kasih kita hanya sekedar pemenuhan kepuasan pribadi. Bebaskanlah diri kita dari semua ini maka kejahatan akan lari menjauh.

Tekanlah kelemahan-kelemahan kita yang mengacaukan dan kehausan kita akan kenyamanan; seranglah rasa itu dari segala penjuru! Remukkan hasrat kita akan kesenangan; jangan berikan celah sedikitpun. Jadilah tegas kepada diri sendiri; jangan beri makan kepada ego kedagingan kita sekalipun dengan rayuan menggoda. Sebab semua hal bertambah kuat saat diulang-ulang, namun akan mati layu saat ditelantarkan.

Namun hati-hati jangan sampai memagari jalan masuk kepada kejahatan namun membuka lebar pintu belakang kita yang membuat sama saja kejahatan itu masih bisa masuk.

Apagunanya, misal kita sudah berusaha tidur di kasur yang keras namun bersantai di bak mandi air hangat? Atau mencoba berhenti merokok namun membebaskan niat untuk berceloteh? Lantas saat anda mencegah niat untuk mengoceh, namun membaca novel seru? Atau jika anda berhenti membaca novel tak pantas namun mulai melamun dan menikmati balada melankolis?

Semua itu hanyalah manifestasi yang berbeda dari satu hal yang sama: keinginan untuk memuaskan desakan untuk mencari kesenangan.

Kita harus sigap mencabut semua hasrat untuk menikmati kesenangan, untuk mendapat kelancaran dan untuk dipuaskan. Anda harus belajar mencintai kesedihan, kemiskinan, rasa sakit dan kesulitan. Kita harus secara diam-diam menuruti perintah Tuhan: untuk tidak berbicara sia-sia, dan tidak mendandani diri secara berlebihan, selalu taat kepada penguasa, tidak memandang wanita dengan nafsu, tidak menjadi marah dan sebagainya. Untuk segala perintah itu diberikan kepada kita bukan hanya untuk diabaikan, namun untuk dilakukan: jika tidak demikian, Tuhan yang penuh belas kasihan itu tidak mungkin membebani kita dengan semua itu. Jika seseorang ingin mengikuti aku, hendaklah dia menyangkal dirinya (matius 16:24), sehingga memberikan ruang kepada kehendak manusia tersebut dan juga mengahargai niatnya: untuk menyangkal dirinya.

Thursday, April 6, 2017

Bab Lima: Penyangkalan Diri dan Pembersihan Hati



Lemah dan tak berdaya dengan kekuatan sendiri, kini kita harus maju untuk menunaikan tugas yang sangat berat bagi seorang manusia: yakni untuk menaklukan keinginan daging kita. Karena sungguhlah segala perjuangan rohani kita sangat terkait dengan penyangkalan diri ini. Sebab sejauh mana kita masih bergantung kepada kemampuan dan aturan kita sendiri, kita tidak bisa dengan setulusnya berdoa, "Terjadilah kehendak-Mu". Jika kita tidak bisa menyingkirkan 'kebesaran' kita sendiri, maka kita tidak akan bisa mampu membuka diri kepada keagungan yang sesungguhnya. Jika kita hanya mengandalkan kebebasan pribadi kita, maka kita tidak dapat ambil bagian dalam kebebasan sejati. Rahasia terdalam dari para orang kudus ialah: janganlah mencari kebebasan, maka kebebasan itu akan mencarimu."

Ada tertulis, "Bumi akan mengeluarkan duri dan semak belukar. Dengan berpeluh, dan jerih lelah engkau akan mengupayakannya. Para Bapa suci berpesan untuk memulai dengan hal-hal yang kecil, sebab menurut St. Efraim dari Siria, bagaimana mungkin kita memadamkan api yang besar sebelum kita berusaha memadamkan api yang kecil. Jika Anda ingin dibebaskan dari penderitaan yang besar, maka belajarlah untuk menggilas nafsu-nafsu kecil, kata para Bapa suci. Jangan kira bahwa nafsu satu terpisah dengan yang lainnya: nafsu-nafu itu saling bertautan sebagaimana rantai yang panjang atau jaring-jaring.

Maka akan menjadi hal yang sangat berat untuk menangkal hal-hal yang besar serta kebiasaan yang buruk tanpa pada saat yang bersamaan menghalau kelemahan-kelemahan kecil yang 'inosen' : keinginan untuk yang manis-manis, rasa ingin terus berbicara, rasa penasaran, rasa ingin ikut campur. Toh pada akhirnya, semua nafsu kita baik itu besar maupun kecil ditumbuhkan dari satu benih yang sama, kebiasaan kecil kita untuk memuaskan keinginan kita yang tidak kita kendalikan.

Sesungguhnya kehendak pribadi kitalah yang dihancurkan. Sejak kejatuhan dalam dosa, kehendak kita senantiasa digunakan untuk pemuasan diri. Karena alasan inilah, peperangan kita diarahkan melawan kehidupan pemuasan yang semacam itu. Kehidupan tobat ini mesti dihidupi segera dan tanpa menunda! Jika Anda kebelet ingin bertanya sesuatu, tahanlah diri! Jika anda kebelet ingin minum dua cangkir kopi, minumlah hanya satu saja! Jika and ingin menegok jam, janganlah menengok! Jika anda ingin menyulut rokok, hindarilah! Jika kamu ingin berkeliling-keliling, tinggalah di rumah!

Ini adalah penyangkalan diri; dengan cara ini seseorang menghempaskan suara keras kehendak pribadi.
Mungkin anda heran, memang perlu sampai segitunya ya? Para bapa suci membalasnya dengan sebuah pertanyaan: Apakah bisa menaruh air bersih ke dalam teko yang berlumuran kotoran? Atau anda ingin menerima tamu ke rumah anda jika saat itu rumah anda seperti kapal pecah? Tidak; seseorang yang ingin menjumpai Tuhan sebagaimana ada-Nya, pasti tergerak untuk berbenah, seturut dengan perkataan rasul Yohanes (I Yoh. 3:3).

Jadi mari kita menjaga hati kita tetap murni! Marilah kita membersihkan sampah dan debu yang mengendap di sana, marilah menyikat lantainya, mengelap kaca dan membukanya, supaya cahaya dan udara segar bisa masuk ke dalam ruangan seperti kita menyiapkan ruangan kudus bagi Tuhan. Lalu marilah memakai baju yang layak, agar kita tidak bau menyengat dan mendapati diri kita diusir keluar (Lukas 13:28).


Biarlah ini menjadi perjuangan kita di setiap hari dan jam. Dengan cara inilah baru kita bisa melaksanakan perintah Tuhan sendiri yang Ia sabdakan melaui Rasul-Nya yang kudus Yakobus: Murnikanlah hatimu (4:8). Dan Rasul Paulus menasihatkan kita untuk membersihkan diri dari segala kecemaran daging dan roh (2 Kor 2). Sebab dari dalam hati kitalah, dari sanalah keluar segala pikiran jahat, percabulan, perzinahan, pembunuhan, pencurian, kelicikan, kefasikan, murka, keinginan jahat, penistaan, kesombongan dan kebodohan. Hal-hal yang ada di dalam hati inilah yang menajiskan manusia (bdk. Markus 7:21-3). Sebab itu Dia menegur orang Farisi: Bersihkanlah dahulu bagian dalam cawan dan pinggan, agar bagian luarnya ikut menjadi bersih juga (Matius 23:26).

Saat kita mengikuti nasihat agar memulai bersih dalam diri, kita harus sadar behwa kita membersihkan pun bukan demi pemuasan diri. Bukan untuk kepuasan pribadilah kita membersihkan dan merapikan ruang tamu kita, namun agar sang tamu menikmatinya. Apakah dia akan merasa nyaman di sini? Kita harus menanyakan ini kepada diri sendiri. Apakah Dia akan mau tinggal? Segala pikiran pertimbangan kita ialah tentang Dia.

Maka dengan cara ini kehendak kita akan di taruh di belakang dan tidak mengharapkan imbalan.
Ada tiga jenis tabiat manusia, sebagaimana dikemukakan oleh Nikitas Stethatos: Manusia daging, yang hanya ingin hidup demi kesenangannya, bahkan dengan harga melukai orang lain; manusia alamiah, yang sekedar membuat diri dan orang lain senang; dan manusia sejati, yang hanya ingin menyenangkan Allah, bahkan saat itu berarti membuat diri terluka.

Tabiat yang pertama adalah tabiat manusia yang rendah, yang kedua adalah wajar dan yang ketiga ada di atas; itu adalah kehidupan di dalam Kristus.
Manusia sejati berpikir secara rohani; Harapannya ialah mendengar sukacita para malaikat bahwa 'seorang pendosa bertobat' (Lukas 15:10), dan pendosa itu adalah dirinya sendiri. Demikianlah kiranya perasaan anda, demikianlah kiranya anda menggantungkan harapanmu, sebab Tuhan memerintahkan kita agar menjadi sempurna sebagimana Bapa kita yang di sorga juga sempurna! (Matius 5:48), dan untuk mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (6:33).

Sebab itu janganlah kita berhenti sampai kita sudah mengerat bagian-bagian dalam diri kita yang adalah tabiat daging. Tujuan kita adalah melacak tanda-tanda kebuasan yang ada di dalam diri kita itu dan menganiayayanya tanpa lelah. Sebab daging berkehendak melawan Roh dan Roh berbanding terbalik dengan daging (Galatia 5:17). Jika anda kuatir akan menjadi munafik dari pengerjaan akan kesalehan kita, atau cemas akan menjadi sombong rohani, periksalah dirimu sendiri dan perhatikanlah bahwa orang munafik (merasa diri benar) sebenarnya buta, atas ketidakmampuannya.

Sunday, February 19, 2017

Bab Empat: Peperangan yang Hening dan Tak Kasat Mata



Kini setelah kita memahami medan tempur yang akan kita hadapi, apa dan dimana sasaran kita, dan kita juga paham betul mengapa peperangan yang akan kita hadapi ini disebut sebagai peperangan tak kasat mata. Semua peperangan ini terjadi di dalam hati kita, dalam keheningan jauh di relung jiwa kita; dan ini juga menjadi hal pokok yang snagat penting untuk kita ingat wejangan dari para Bapa Suci: jagalah mulut kita dalam keheningan akan rahasia kita. Jika orang sauna membuka pintunya, maka panas uapnya akan memudar dan sia-sia saja mengharapkan panasnya uap.

Maka rahasiakanlah maksud muliamu ini. Jangan pamerkan kehidupan dan niatan baru yang engkau jalankan ini. Biarlah ini semata antara Anda dan Allah. Tentunya, satu pengecualian kepada bapak rohanimu. Keheningan sangatlah perlu karena segala omongan mengenai diri sendiri memupuk subur perhatian terhadap diri sendiri dan rasa mengandalkan diri. Hal-hal inilah yang justru harus dihempaskan dari mulanya! Melalui keheningan, rasa berserah kita bertumbuh di dalam dia yang melihat apa yang tersembunyi; melalui kesenyapan seseorang berbicara kepada Dia yang dapat mendengar tanpa kata-kata. Datang kepada-Nya adalah bagian dari ikhtiarmu; dan biarlah hanya di dalam Dia segala pengharapanmu, dalam kekekalan tidak akan ada kata-kata yang cukup untuk memuliakan-Nya.

Sadarilah bahwa segala yang terjadi denganmu, baik itu besar ataupun kecil, dikirimkan oleh Allah untuk menolongmu dalam pertempuran ini. Hanya Dia yang benar-benar mengerti apa yang engkau perlukan dan apa yang sesungguhnya engkau butuhkan saat ini: kesulitan atau kesejahteraan, ujian dan kejatuhan. Tidak ada sejatinya yang terjadi secara acak, yang tidak dapat Anda ambil pelajarannya; segera mengertilah hal ini, sebab dengan cara inilah imanmu bertumbuh di dalam Tuhan yang Anda ikuti.

Wejangan lain dari para kudus: engkau mesti melihat dirimu sebagai kanak-kanak yang mulai belajar bicara dan belajar berjalan. Segala kebijaksanaan duniawi dan skill yang kita miliki akan sia-sia saja dalam peperangan yang menantimu, dan pula semua status sosialmu dan kekayaanmu tidak berpengaruh. Kekayaan yang tidak digunakan untuk melayani Allah merupakan beban, dan pengetahuan yang tidak mengubahkan hati itu gersang dan justru membahayakan, sebab hal itu penuh prasangka. Itulah jenis pengetahuan yang 'telanjang' sebab tidak diselimuti kehangatan busana kasih. Anda harus menanggalkan pengetahuan diri yang semu, menjadi sederhana agar bertambah bijak, dan menjadi miskin di hadapan Allah agar diperkaya dengan iman, menjadi yang lemah agar menjadi kuat dalam kesejatian.

Sunday, February 5, 2017

Bab Tiga: Taman Hati



Hidup yang baru dalam pertobatan yang kita tapaki ini sering diumpamakan sebagai sebuah kebun. Tanah yang dia kerjakan itu dari Allah, begitu juga benih dan sinar mentari bahkan juga daya untuk bertumbuh. Namun usaha dan kerajinan diserahkan kepada pekerjanya.

Jika sang petani ingin agar panennya melimpah, dia harus berangkat pagi buta dan kembali sampai petang, menyiangi dan mencabuti rumputnya, mengairi dan membasmi hama, sebab perihal mengerjakan hasil dikelilingi banyak bahaya. Dia harus bekerja tanpa lelah, tekun, waspada, selalu siap; namun lebih-lebih lagi seluruh hasil panen itu bergantung kepada Allah.

Taman yang kita kerjakan dan pelihara adalah taman di hati kita; panennya adalah kehidupan kekal. Ialah kekal sebab ia berada di luar ruang dan waktu, tidak tergantung keadaan eksternal. Inilah hidup dalam kebebasan sejati, hidup dalam kasih dan terang, yang tidak mengenal batas, maka itu disebut kekal. Itulah kehidupan yang rohani dan di ranah rohani: wujud kodrat ilahi. Hidup itu dimulai dari sini namun tidak akan berakhir, tidak ada kekuatan di bumi yang mampu merampasnya, dan itu ditemukan di dalam hati manusia.

Tekanlah dirimu, kata St. Ishak dari Suriah, dan musuh-musuhmu nisacay mundur saat engkau mendekat. Berdamailah dengan dirimu, maka langit dan bumi niscaya berdamai denganmu. Berpeluhlah untuk masuk ke dalam ruang maha kudus di dalam hatimu dan engkau akan melihat sorga, sebab mereka itu sama dan satu, dan ketika engkau masuk, engkau memasuki hal yang sama. Tangga kepada Kerajaan itu ada dalam engkau, tersembunyi dalam jiwamu. Hempaskanlah beban dosa di dalam hatimu dan engkau akan menemukan jalan naik yang akan memungkinkan kenaikanmu. Kerajaan sorgawi yang dibicarakan sang santo inilah nama lain dari kehidupan yang kekal. Juga di sebut kerajaan kebenaran, Kerajaan Allah, atau sederhananya: Kristus. Hidup di dalam Kristus adalah hidup dalam kekekalan.

Tuesday, January 31, 2017

Bab Dua: Kekuatan Manusia saja Tak Cukup


Para Bapa suci berseru dengan satu suara: Jangan pernah mengandalkan kekuatan kita sendiri. Perang yang ada di hadapan kita ini sangatlah berat, dan kekuatan manusia kita semata tak akan dapat cukup untuk menghadapinya. Jika Anda mengandalkannya, secara serta merta kita akan jatuh dan jadi malas untuk melanjutkan pertempuran. Hanya Allah yang bisa memenangkan pertarungan ini untuk memenangkan kita.

Keputusan untuk tidak mengandalkan kekuatan sendiri ini berat pada awalnya. Namun penghalang ini harus ditaklukan, jika tidak, kita dipastikan tak akan dapat maju melanjutkan perjuangan rohani. Sebab amat sulit untuk membangun seorang manusia yang merasa bahwa dirinya sudah hebat, bisa semua dan tidak memerlukan bantuan!
Karena tembok berupa rasa berpuas diri, maka cahaya tidak bisa menembusnya. "Celakalah mereka yang memandang dirinya bijaksana, yang menganggap dirinya pintar, seru nabi Yesaya (5:21). Demikian juga Rasul Paulus menyampaikan peringatan: " Janganlah menganggap dirimu pandai!" (Roma 12:16). "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil".

Kita harus merendahkan diri kita, agar jangan terlalu percaya diri. Seringkali rasa ini tertanam begitu dalamnya sehingga kita tidak dapat melihat bagaimana hal itu menguasai pikiran kita. Justru rasa ego dan berpusatnya kita pada diri sendiri yang menyebabkan banyak masalah, kurangnya kerelaan kita akan penderitaan, kekecewaan kita dan kelelahan jiwa dan raga.

Mari kita tilik diri kita sendiri, dan lihatlah bagaimana terikatnya kita akan hal-hal yang menyenangkan diri sendiri. Kebebasan kita justru menjadi kekang kita karena kita termakan hasrat untuk memuaskan diri sendiri. Lalu kita berkeliaran, seperti raga yang sudah terpasung dari pagi hingga petang. "Saya mau minum," "Saya mau bangun," "Saya mau baca korang." Maka kita dipimpin oleh satu keinginan kepada keinginan yang lain. Begitu rentannya pula kita akan rasa tidak senang, tidak sabar atau kemarahan jika keinginan itu terhalangi.
Jika engkau melihat lebih dalam lagi ke dalam dirimu, kita akan melihat hal yang sama. Anda bisa menyadarinya saat merasakan kemarahan saat orang lain tidak sependapat, bahkan melawan kita. Begitulah kita hidup di dalam kekangan kehendak sendiri. Namun dimana ada Roh Allah, ada kemerdekaan (11 Korintus 3:17).

Bagaimana bisa hal yang baik bisa keluar dari ego yang sedemikian mengekang? Bukankah Tuhan mengajarkan kepada kita untuk mengasihi sesama kita seperti diri sendiri, dan mengasihi Allah di atas segalanya? Namun apakah kita sudah melaksanakannya? Bukannya kita malah jauh lebih tertarik mengisi pikiran kita untuk mengurusi hasrat sendiri?
Jadi jelaslah bagi kita bahwa tak ada satupun yang baik yang bersumber pada diri kita sendiri. Sewaktu-waktu ketika ada tidakan dan pikiran yang mulia terpintas, kita harus sadar bahwa itu bukan dari diri kita sendiri, melainkan terpancar dari mata air sumber kebaikan dan dialirkan melalui anda: itu adalah rahmat Sang Pemberi hidup. Begitu pula kekuatan untuk mengenakan pikiran yang baik menjadi perbuatan bukanlah daya sendiri, namun dianugerahkan kepadamu oleh Tritunggal Mahakudus.

Monday, January 23, 2017

Pendahuluan dan Bab Satu dari Buku Way of Ascetics [Jalan Penyangkalan Diri]

Jalan Penyangkalan Diri 
oleh Tito Colliander




Pendahuluan

Jalan Penyangkalan diri (Way of the Ascetics) merupakan perkenalan akan jalan sempit yang memimpin kepada hidup. Itu merupakan hal yang sederhana namun penjelasan yang sangat dalam mengenai kehidupan rohani yang diajarkan oleh Gereja Orthodox selama lebih dari 2000 tahun. Tulisan ini merupakan himpunan dari pengalaman-pengalaman bapa dan ibu asketis di padang gurun, dan inspirasi yang dalam kepada hidup rohani dari oranng-orang kudus. Pengingatan akan tulisan 'Tangga' oleh St. Yohanes Klimakus, "Jalan Penyangkalan diri" menggerakkan kita untuk memulai perjuangan kita naik dari keduniawian kepada Kerajaan Sorga.

Dalam zaman kita yang sangat dipengaruhi oleh new age (zaman baru) dan agama-agama buatan sendiri, gaya anjuran bapa-bapa gereja nan sederhana sangatlah menyejukkan. Dengan kondisi zaman kita yang rindu akan kesederhanaan dan mudah dipahami adalah hal yang sangat indah untuk mendapatkan inspirasi yang sederhana dan mudah dicerna dari mereka. Kami menyediakan bahan ini di internet untuk pertama kali dengan maksud agar mereka yang tergerak untuk sungguh-sungguh menghidupi kehidupan rohani dapat menerima petunjuk sederhana yang dapat menolong kita memulai berjalan di jalan yang telah teruji oleh waktu ke dalam Kerajaan Allah yang mulia.

Catatan dari Pengarang buku ini:

Karya ini dilandaskan pada tulisan-tulisan Bapa-bapa suci dari Gereja Orthodox dan berisi kutipan-kutipan langsung dan bebas, dengan tafsiran dan aplikasi praktis seperlunya.
Kutipan Alkitab diambil dari Authorized Version (dalam bahasa Inggris- penerjemah menggunakan Terjemahan Baru LAI-red), Mazmur teks asli berdasarkan Psalter Orthodox (Bahasa Indonesia menggunakan Mazmur LAI TB).


BAB Satu: Ikhtiar Yang Mantap dan Niat Teguh


Ilustrasi: Patriakh Pavle dari Serbia, penuh kenangan akan kesalehan. 


Jika anda ingin menyelamatkan jiwamu dan mendapatkan hidup yang kekal, bangkitlah dari rasa malasmu, buatlah tanda Salib dan ucapkanlah:

"Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin".

Iman datang bukan semata dari merenung-renung melainkan melalui bertindak. Bukan kata-kata atau olah pikir belaka namun pengalamanlah yang mengajarkan kita akan Allah. Seperti ini: jika kita ingin udara sejuk dari luar masuk ke ruangan kita, maka kita harus membuka jendelanya; untuk memperoleh kulit cokelat merona kita harus keluar rumah dan mendapat sinar matahari. Menerima iman tidaklah jauh berbeda dengan itu; kita tidak akan sampai ke sana kalau hanya duduk manis ongkang kaki dan menunggu, demikian kata para bapa suci. Kita perlu meneladani si Anak Bungsu yang hilang. "Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. (Lukas 15:20)

Seberat apapun dan sedalam apapun kita terjerembab dalam kubangan keduniawian, tidak ada kata terlambat. Bukan tanpa alasan bahwa dalam Alkitab, Abraham berumur 75 tahun saat menerima perintah Allah untuk pergi ke Kanaan, begitu juga dalam perumpamaan Kristus, pekerja yang datang pada jam yang kesebelas mendapatkan upah yang sama dengan dia yang datang paling pertama.

Jangan pula beranggapan ini terlalu cepat[Nanti saja lah...-red].Lihat saja penyebab kebakaran hutan. Jika terlambat sedikit saja, tamatlah riwayatnya. Jiwa kita juga demikian: tidak bisa dibiarkan berlama-lama diberangus dan habis terbakar.

Saat dibaptis, anda menerima perintah untuk maju berperang dalam peperangan rohani melawan musuh dari jiwa kita; angkatlah senjata sekarang. Sudah terlalu lama kita menunda-nunda, tenggelam dalam rasa enggan dan malas sehingga waktu berharga kita terbuang percuma. Marilah kita mulai lagi dari awal: sebab kita sudah menyandarkan mahkota kemurnian yang kita terima dalam baptisan usang dan berdebu karena diabaikan.

Bangunlah, dengan segera, tanpa menunda-nunda lagi. Jangan tunda hal itu sampai "malam ini", atau "besok", atau "nanti, kalau saya sudah selesai dengan apa yang saya kerjakan sekarang."

Jangan. Sekarang juga adalah waktunya. Saat kita membuat niat dan ikhtiar, tunjukanlah dengan tindakan sederhana bahwa anda menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia yang baru. Bangkitlah, dan tanpa gentar katakanlah: "Ya Tuhan izinkanlah hamba memulainya sekarang, tolonglah hamba." Sebab apa yang sangat kita perlukan tidak lain adalah pertolongan dari Allah... Berpeganglah pada tujuan kita ini dan jangan menoleh ke belakang. Kita diberikan peringatan yang jelas akan hal ini dalam kisah istri Lot yang berubah jadi tiang garam saat menoleh ke belakang (Kejadian 19:26). Anda sudah melepaskan manusia lama; biarlah kulit lama itu dibuang. Sebagaimana Abraham, anda telah mendengarkan suara Tuhan: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; (Kejadian 12:1). Ke arah tanah perjanjian itulah hendaknya kita mengarahkan perhatian kita.    

Saturday, January 7, 2017

Homili Tahun Baru dari St. Barsanafius

Homili Tahun Baru disampaikan tahun 1913 oleh St. Barsanafius dari Optina,


St. Barsanafius dari Optina, sumber

"Saya mengucapkan selamat tahun baru kepada umat sekalian yang berkumpul di sini. Selamat menerima sukacita yang akan dilimpahkan Tuhan pada tahun yang baru. Selamat menerima juga duka dan perjuangan yang tak terelakkan yang akan mengunjungi kita di tahun ini: mungkin hari ini, besok, atau dalam waktu dekat. Namun janganlah menjadi bimbang atau takut karena kedukaan atau sengsara itu.

Kesedihan dan sukacita terjalin ikat satu sama lain. Mungkin hal ini terlihat aneh bagimu, namun ingatlah akan kata-kata Penyelamat kita: Seorang perempuan berduka cita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia (Yohanes 16:21). Hari berganti menjadi malam, malam menjadi siang, cuaca buruk menjadi cerah; begitu juga duka cita diganti dengan suka cita, suka cita bertukar dengan duka cita.

Rasul Paulus mengatakan kata-kata yang keras kepada mereka yang tidak mau menanggung kesengsaraan apapun demi Allah: Sebab jika engkau dibiarkan tanpa penghukuman, engkau bukanlah anak yang sah. (Ibrani 12:6-8)  Janganlah menjadi depresi; biarlah yang depresi adalah mereka yang tidak percaya kepada Allah. Bagi mereka, tentu saja duka cita dan sengsara adalah hal keliru, sebab mereka hanya mengenal kesenangan dunia. Namun orang-orang yang percaya kepada Allah janganlah hilang harapan, sebab melalui dukacita dan sengsara itu mereka menerima hak sebagai anak-anak yang sah, yang tanpanya seseorang tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Sorga.

"Menginjak-injak perintah yang cemar, Tiga Pemuda Yahudi di Babilonia ditopang oleh kesalehan, tiada takut akan ancaman perapian, namun berdiri di tengah-tengah nyala api, mereka bernyanyi:' Terberkatilah Engkau ya Allah dari para bapa leluhur kami.'" (Irmos Kelahiran Kristus, Irama 1, sloka 7)

Bisa jadi dukacita adalah ancaman akan api, atau pencobaan macam-macam, namun kita tidak usah takut, justru kita sudah semestinya  berdiri tegap seperti pemuda-pemuda yang saleh itu dan bernyanyi bagi Allah dalam sengsara kita, dengan iman bahwa semuanya dikirimkan oleh Allah untuk keselamatan kita.

Kiranya Allah menyelamatkan kita sekalian, dan membimbingmu ke dalam Kerajaan Terang yang Takteredupkan! Amin."